Dalam kebudayaan Jawa, kata dasar ajeni bermakna menghargai atau memuliakan martabat orang lain. Melalui kerangka Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ), ngajeni bukan sebatas teori budi pekerti atau basa-basi verbal, melainkan pengejawantahan dari etika luhur (unggah-ungguh) serta kerendahan hati (andhap asor). Nilai ini wajib diterapkan secara universal kepada siapa pun, tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun tingkatan usia.
NGA – Ngapurancang
Sikap ngapurancang dilakukan dengan berdiri atau berjalan sambil menangkupkan tangan kanan di atas tangan kiri tepat di depan tubuh, tepatnya di bawah pusar. Gestur ini memuat filosofi kesiapan untuk mendengarkan, pengendalian diri, serta penegasan ketiadaan niat agresif atau menantang. Dalam keseharian, sikap ini diterapkan ketika seorang siswa berdiri tenang saat diajak berbicara oleh guru, orang tua, menerima tamu, atau ketika bertugas menyambut kehadiran orang lain di lingkungan sekolah.
JE – Jempol
Penggunaan jempol mengacu pada tata cara menunjuk objek, tempat, atau arah menggunakan ibu jari dengan posisi empat jari lainnya mengepal ke dalam. Praktik ini berakar dari kebiasaan menghindari penggunaan jari telunjuk yang dalam budaya Jawa lekat dengan kesan menggurui, menuduh, atau menghakimi (nduding). Penerapan nyatanya terlihat saat menunjukkan arah jalan kepada tamu yang berkunjung atau menunjukkan letak ruangan dan barang dengan gestur yang santun.
N – Nuwun Sewu / Ndherek Langkung
Frasa nuwun sewu atau ndherek langkung merupakan wujud etika permohonan izin atau permisi saat melintas di dekat maupun di hadapan orang lain. Ungkapan verbal ini dipadukan dengan sikap fisik yang selaras, yaitu sedikit membungkukkan badan sembari mengayunkan tangan kanan ke bawah secara perlahan ketika harus berjalan melewati orang yang sedang duduk atau berkumpul.
N – Nyuwun Pangapunten
Nyuwun pangapunten adalah ungkapan permohonan maaf yang tulus sekaligus pengakuan atas keterbatasan serta kerendahan hati diri sendiri. Frasa ini dibiasakan untuk langsung diucapkan secara spontan dan santun saat melakukan kekhilafan, seperti tidak sengaja menyenggol orang lain, datang terlambat ke kelas, atau ketika terpaksa memotong pembicaraan.
N – Matur Nuwun
Ungkapan matur nuwun berfungsi sebagai bentuk apresiasi dan rasa syukur mendalam atas setiap kebaikan, bantuan, arahan, maupun pemberian yang diterima. Penerapan praktisnya tampak saat siswa spontan menyampaikan terima kasih seusai mendapatkan bimbingan dari guru, menerima pertolongan dari teman sebaya, atau sesudah dilayani oleh staf di lingkungan sekolah.
N – Monggo
Kata monggo merupakan sapaan santun yang digunakan untuk mengajak, mempersilakan, atau menghormati kehadiran orang lain. Penggunaannya sangat fleksibel dalam pergaulan harian, mulai dari mempersilakan tamu memasuki ruangan, mempersilakan orang lain untuk duduk terlebih dahulu, hingga menjadi salam ramah saat berpapasan dengan guru atau warga sekitar.
I – Injih (Inggih)
Kata injih atau inggih merupakan bentuk afirmatif (“iya” atau “baik”) dalam tingkatan bahasa krama alus yang mencerminkan rasa takzim, kepatuhan, serta kelembutan budi pekerti. Sikap berbahasa ini ditunjukkan saat merespons panggilan atau mematuhi arahan dari guru dan orang tua dengan intonasi rendah serta santun, tanpa nada membantah atau menyela secara kasar.
