You are currently viewing Meneladani Optimisme Para Nabi Ulul Azmi di Era Kekinian

Meneladani Optimisme Para Nabi Ulul Azmi di Era Kekinian

Membahas tentang optimisme, ternyata bukan sekadar soal “berpikir positif” yang parsial. Lebih dalam lagi, optimisme berkenaan dengan cara pandang yang berakar pada iman, harapan, dan ikhtiar. Di tengah arus informasi yang cepat, kompetisi yang ketat, serta ketidakpastian masa depan, sikap optimis menjadi penopang ketangguhan batin. Optimisme menolong seseorang melihat peluang di balik rintangan, menata ulang strategi ketika gagal, dan tetap bergerak ketika hasil belum tampak. Lantas menegaskan bahwa ia bukan pelarian dari realitas, tetapi energi untuk menghadapi realitas dengan akal sehat, hati yang lapang, dan langkah yang terukur.

Dalam Islam, optimisme memiliki landasan kuat dari sumber utama ajaran Islam. Al-Qur’an berulang kali mengajak pembacanya senantiasa meneguhkan harapan, semisal dalam firman Allah: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Yusuf: 87). Pada tempat lain, al-Qur’an juga menegaskan bahwa segala hal yang terjadi akan berakhir baik-baik saja. Hal itu seperti diungkap dalam firman Allah: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6). Di balik keteguhan harapan, ada sikap husnuzzhan kepada Allah dan menjauhi prasangka buruk.

Melengkapi landasan di atas, terdapat juga hadis yang menekankan sikap husnuzzhan kepada Allah dan larangan berprasangka buruk. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya berprasangka baik kepada Allah adalah bagian dari ibadah yang baik kepada-Nya.” HR. Tirmidzi.

Karena begitu bahaya dampak negatifnya, prasangka buruk disebut sebagai perkataan yang penuh dusta. Ibaratnya, berprasangka buruk sama saja dengan berdusta terhadap diri sendiri dan orang lain. Hal ini dikuatkan dengan hadis riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Hindarilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah perkataan yang paling dusta.” HR. Bukhari Muslim.

Pada konteks kekinian, optimisme harus hadir sebagai kebiasaan praktis. Paling tidak ada contoh empat hal yang dapat diimplementasikan dalam pembiasaan jangka pendek maupun jangka panjang yang berkelanjutan. Pertama, orientasi proses tersusun dalam menetapkan tujuan belajar yang jelas, memecahnya menjadi target harian, dan mengevaluasi kemajuan kecil. Kedua, manajemen pikiran dengan bertumbuh untuk mengganti “aku tidak bisa” menjadi “aku belum bisa, tetapi bisa belajar” seraya melatih fokus dan disiplin digital. Ketiga, ekosistem dukungan dengan memotivasi diri bergabung dalam komunitas belajar, berdiskusi dengan mentor, dan membiasakan journaling syukur untuk menjaga semangat. Keempat, ketahanan menghadapi gagal seperti dapat dilakukan dengan menulis pelajaran dari kesalahan, mengubah strategi, dan memberi batas waktu realistis.

Optimisme bukan menafikan ujian, tetapi memaknainya sebagai jalan bertumbuh. Ia sejiwa dengan tawakal setelah berusaha optimal, menyerahkan hasil kepada Allah, lalu menerima dengan ridha sambil terus memperbaiki diri. Dengan fondasi ini, optimisme menjadi nilai spiritual sekaligus etos kerja yang terus mendukung berlangsungnya kehidupan semakin menuju lebih baik.

Para nabi ulul azmi adalah pelaku nyata optimisme yang paling terang untuk diteladani. Nabi Nuh AS terus berdakwah selama berabad-abad meski ditolak, membangun bahtera sebelum hujan turun menjadi wujud visi jauh dan kesetiaan pada perintah. Nabi Ibrahim AS tetap teguh saat diuji dengan api, hijrah, hingga perintah penyembelihan—optimisme yang bertumpu pada keyakinan kebijaksanaan Allah. Nabi Musa AS berkata, “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk” ketika terdesak di tepi Laut Merah—optimisme yang melahirkan keberanian.

Nabi Isa AS mengajarkan harapan dan kasih sayang di tengah penolakan. Nabi Muhammad Saw., meski dikepung kesulitan di Thaif dan embargo di Makkah, tetap menabur kabar gembira, mengatur strategi hijrah, dan membangun peradaban di Madinah. Karenanya, optimisme mereka bukan retorika, melainkan keputusan-keputusan nyata yang menembus gelap sejarah.

Meringkas dari para ulama, bahwa optimisme adalah akhlak hati sekaligus metode perjuangan untuk meraih sesuatu. Imam Al-Ghazali menekankan pembiasaan amal kecil yang konsisten untuk menata jiwa. Ibnul Qayyim menulis tentang husnuzzhan kepada Allah sebagai kunci lapang dada. Ibnu Taimiyah mengajarkan kelapangan makna “nikmat” bahkan dalam musibah, karena selalu ada peluang pahala dan ilmu.

Dari para ulama seperti mereka, kita dapat belajar tiga pesan ringkas namun bermakna mendalam. Pertama, optimisme menuntut ilmu dan rencana jelas. Kedua, optimisme tumbuh dari syukur dan sabar yang dilatih setiap hari. Ketiga, optimisme harus produktif yang bermula dari bergerak, berkolaborasi, dan memberi manfaat. Sehingga, jadikanlah harimu menjadi ruang untuk menanam, bukan terus menunda. Yakinkan diri, bahwa di setiap ikhtiar baik takkan sia-sia di sisi Allah; sementara tugas manusia adalah terus melangkah dan akhirnya Allah yang membuka jalan.

Penulis : Abdul Fatah